Indonesia Corner Novel Islami

Part 3: SARAH

Sarah adalah sahabat baikku. Meskipun keakraban kami baru terjalin dalam satu tahun belakangan ini, namun ialah sosok yang memiliki andil besar dalam merubah jalan hidupku.

Sarah Usman. Aku mengenalnya dalam sebuah peristiwa angkot yang memalukan di depan kampus. Waktu itu, aku yang naik angkot dari depan rumah baru menyadari kalau dompetku tertinggal di rumah ketika mobil sudah berhenti di depan Kampus. Mukaku berubah pucat ketika mengaduk isi tas dan tidak menemukan dompet pink Hello Kity. Sambil terus berdoa berharap ada kejaiban muncul, aku terus memeriksa satu persatu isi tas ransel yang kubawa. Sementara sopir angkot mulai mengeluh karena aku tak kunjung memberikannya bayaran.  

Panik, aku turun dari angkot dengan disertai pandangan menyelidik dari para penumpang lainnya.

“Maaf bang, dompet saya ketinggalan di rumah …,” bibirku sedikit kaku ketika mengucapkan kata-kata itu. Mukaku merah menahan malu.

“Yah, gimana atuh, Cik?”

“Bisa saya utang dulu, Bang? Besok saya bayar.”

“Ah, ada-ada aja si ‘Ncik. Bayar angkot kok ngutang.”

“Tapi saya benar-benar lupa bawa dompet. Besok Abang bisa temui saya di halte ini, jam 8 pagi.”

“Waduh, gimana yah …,” si sopir mulai terlihat kesal. Para penumpang yang lain menatapku tak sabar.

Tiba-tiba seorang gadis berjilbab yang berdiri di halte kampus menghampiri kami. Dari penampilannya aku menduga kalau gadis itu juga seorang mahasiswi dan sedang menunggu angkot.

“Ini, pakai uang saya saja.” Gadis itu memberikan uang sepuluh ribu ke arah sopir.

Dengan cepat si sopir mengambil uang itu dan menyodorkan uang lima ribu sebagai kembalian. Tanpa berkata apa-apa ia langsung menginjak gas dengan perlahan, meninggalkan aku dan gadis asing itu.

“Terima kasih,” kataku pelan sambil menatap sang dewi penolong.

“Sama-sama. Tadi gak sengaja kudengar kamu lupa bawa dompet. Ini, pakai saja uangku untuk ongkos pulang.” Gadis berjilbab itu menyodorkan uang dua puluh ribuan.

“Terima kasih, gak usah. Biar nanti saya hubungi kakak saya untuk jemput ke sini,” tolakku halus. “Besok saya ganti uangnya ya. Kuliah di jurusan apa?”

Gadis manis itu tersenyum mengulurkan tangannya, “Namaku Sarah Usman, mahasiswi Akuntansi semester 5. Tidak usah diganti, aku ikhlas kok. Beneran!”

“Nama saya Alin Widjajakusuma.” Jengah, aku membalas jabatan tangannya.

“Kuliah jurusan apa?”

“Jurusan sastra Cina, semester 5.”

“Oh, kita satu angkatan ya?”

“Ya, sepertinya.”

Obrolan kami terhenti karena angkot yang ditunggu Sarah sudah berhenti di hadapan. Dengan ramah Sarah berpamitan dan meninggalkan aku yang sedikit tak enak hati padanya.

Terus terang, itu kali pertama aku berhutang budi pada orang di luar komunitas kami. Aku memang selalu menghindari urusan yang tidak perlu dengan masyarakat kebanyakan. Aku berjanji dalam hati akan mencarinya di fakultas besok dan segera membayar uang tadi agar terbebas dari perasaan hutang budi.

Ketika aku berhasil menemuinya esok hari, Sarah tetap menolak uang itu. Dengan sedikit memaksa aku mencoba memberikan uang itu.

“Gak usah di bayar, Lin. Aku ikhlas kok!”

“Tapi saya jadi gak enak.”

“Hmm … kalau gitu, supaya kamu jadi enak, gimana kalau kamu traktir aku es buahnya Mang Ujo? Kayaknya siang-siang gini enak nih buat minum es!” Sarah berkata sambil menunjuk kantin bawah. Tawarannya membuatku mengalah.

Selanjutnya aku mengikuti langkah Sarah yang mengarah ke lantai bawah. Cuaca siang yang lumayan panas mendadak berubah sejuk ketika masuk ke dalam kantin yang terletak di basement gedung Fakultas Ekonomi Universitas Merdeka. Ditambah hembusan angin semilir dan rerimbunan pepohonan besar berusia puluhan tahun yang melindunginya, kesejukan dan ketenangan suasananya membuat perasaanku jadi sedikit nyaman. 

Kami duduk berhadap-hadapan di pojok kantin. Awalnya aku merasa risih harus duduk bersama seorang perempuan berjilbab. Sesuatu yang tidak pernah aku lakukan seumur hidup. Bagaimana kalau teman-temanku melihat? Apa yang akan mereka pikirkan? Untunglah, suasana di kantin sedikit lengang. Tak banyak para mahasiswa atau mahasiswi yang berlalu lalang.

Aku mulai memperhatikan sosok gadis penyelamatku. Dari fisiknya, Sarah memiliki penampilan menarik meskipun sebagian besar tubuhnya tertutup dengan kerudung besar. Postur tubuhnya tinggi dan sedikit kurus. Wajahnya manis dengan sepasang lesung pipit di pipi. Matanya yang bulat dinaungi bulu mata yang lentik. Dari bagian tubuhnya yang terlihat, nampak kulitnya yang putih dan bersih. Sedangkan sikapnya sangat hangat, ceria dan bersahabat. Sarah tidak canggung sedikit pun berkomunikasi dengan perempuan sipit yang memiliki penampilan berbeda dengan dirinya.

Sarah sepertinya mengerti atas kekikukanku. Karena itu Sarah lebih aktif berbicara dan bercerita banyak hal. Sedangkan aku memilih menjadi pendengar yang baik dan sesekali menimpali ceritanya.

Menurut cerita Sarah, ayahnya orang Aceh sedangkan ibunya orang Garut. Sejak muda ayahnya sudah merantau ke daerah Jawa Barat hingga akhirnya bertemu ibunya di Bandung. Orang tuanya menikah dan memutuskan tinggal di tanah kelahiran ibunya. Sarah lahir dan besar di sana. Ia memiliki 4 orang kakak lelaki yang kesemuanya sudah menikah.

Sarah juga lincah bercerita tentang hal-hal dunia anak muda sekarang yang bahkan aku sendiri pun kurang mengetahuinya. Ternyata meskipun menggunakan pakaian tertutup—bagiku seperti lambang perempuan terkungkung—Sarah banyak tahu tentang musik, film, dan KoreanWave yang sedang ngetop di kalangan anak muda. Rasanya lumayan asyik juga menghabiskan waktu bersama seseorang yang baru dikenal. 

Selama ini duniaku hanya sebatas rumah, kampus, tempat kursus, tempat ibadah, atau Mall. Aku tidak memiliki sahabat dalam arti seseorang yang dekat dan sering menjadi tempat sharing segala hal. Sahabat terdekatku adalah Mami, dan tentu saja keluarga di rumah. Teman-teman sebayaku hanya berasal dari komunitas gereja di dekat rumah. Kebanyakan dari mereka berasal dari etnis Cina dan komunitas gereja. Aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan berbagai fasilitas yang telah dilengkapi oleh Papi. Mulai dari TV kabel, internet, kolam renang, alat-alat fitness, bahkan untuk urusan potong rambut pun dilakukan di rumah agar aku tidak perlu terlalu sering keluar.

Sejak pertemuan di kantin itu, beberapa kali aku dan Sarah berpapasan karena memang letak Fakultas Sastra dan Fakultas Ekonomi berdekatan. Semakin sering bertemu, semakin hilang kecanggunganku di hadapannya karena sikapnya yang hangat dan membuatku lupa kalau kami berasal dari latar belakang yang berbeda. Terkadang aku sengaja menunggunya selesai kuliah hanya untuk mengajaknya ke perpustakaan atau toko buku.

Padahal, selama ini aku paling sulit memiliki sahabat di luar rumah karena sikapku yang terlalu tertutup dan berhati-hati, seperti yang diajarkan Papi padaku sejak kecil. Ada hal yang membuatku terkesan pada diri Sarah: sikapnya sangat tulus, apa adanya, dan jauh dari sikap basa-basi. Sarah memperlakukanku sama seperti teman-temannya yang lain, tidak menjaga jarak meskipun kami berbeda keyakinan. Selain itu, Sarah memiliki ‘dunia lain’ yang menarik minatku.

Aneh, aku bahkan tidak terganggu sedikitpun dengan busana dan jilbabnya!

Dengan seseorang yang menyenangkan seperti Sarah, aku seperti menemukan sesuatu yang baru. Duniaku yang selama ini tertutup dan menyendiri, seakan-akan menyembulkan celah yang sedikit memberi sinar ke luar. Celah itu seakan memberitahuku bahwa dunia di luar sana ternyata amat menyenangkan. Penuh warna seperti pelangi dan selalu ada yang baru untuk kita nikmati. Keberagaman dan perbedaan yang selama ini kuhindari justru semakin menarikku untuk masuk ke dalamnya. Memamerkan padaku kalau hal itu tidaklah tabu untuk dinikmati. Life is full of surprise.

Kini, jadilah Sarah—seorang gadis berjilbab—sebagai sahabat karibku, seorang gadis keturunan Cina.

About the author

ulil amri

Add Comment

Click here to post a comment

Translate This Site »